BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Menurut Permenkes Nomor 1076/Menkes/SK/VII/2003
tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional, obat tradisional adalah bahan
atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,
sediaan sarian (galenik) atau campuran bahan tersebut yang secara turun temurun
telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Obat tradisional pada
saat ini banyak digunakan untuk pengobatan karena menurut beberapa penelitian
efek samping pada obat tradisional masih relatif ringan. Sebagai contoh obat
tradisional yang masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sampai saat
ini misalnya lidah buaya (Aloe vera) dan
daun sirih hijau (Piper betle folium).
Lidah Buaya (Aloe barbadensis
Milleer) atau yang lebih dikenal dengan Aloe
vera adalah sejenis tumbuhan
yang sudah dikenal sejak ribuan tahun silam dan digunakan sebagai penyubur
rambut, penyembuh luka, dan untuk perawatan kulit. Tumbuhan ini dapat ditemukan
dengan mudah di kawasan kering di Afrika.
Lidah buaya adalah salah satu jenis tanaman obat yang memiliki kandungan
senyawa bioaktif yang disebut antrakuinon. Bioaktif yang terkandung
pada lidah buaya ini memiliki fungsi sebagai antibakteri atau antibiotik
(Sinurat dkk., 2003).
Tanaman sirih adalah salah satu tanaman obat yang
telah dimanfaatkan dari tahun ketahun. Sirih hijau (Piper betle linn) merupakan salah satu jenis tumbuhan merambat yang
termasuk family Piperaceae. Daun
sirih mengandung minyak atsiri dan beberapa turunan fenol, salah satunya dalam daun sirih
terkandung eugenol yang memiliki sifat antifungal. (Drs.H. Arief Hariana, 2007)
Candida
albicans merupakan
khamir. Khamir adalah fungi yang tidak berfilamen dan bereproduksi melalui
pertunasan atau pembelahan sel. Khamir digunakan dalam pembuatan roti dan
anggur, namun adapula khamir yang dapat menimbulkan panyakit, contoh khamir patogen
adalah Candida. (Bibiana,1994). Infeksi
jamur ini dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang
dapat menyebabkan septicemia,
endokarditis atau meningitis (Simatupang,
2009). Namun jamur ini lebih sering dikenal sebagai penyebab penyakit
keputihan.
Keputihan
atau Fluor Albus merupakan sekresi
vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya
disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian
luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain penggunaan kontrasepsi
jenis oral, bakteri, virus, jamur atau juga parasit.
Gejala
yang muncul adalah kemerahan pada vulva
di vagina, bengkak, iritasi, dan rasa terbakar serta panas pada daerah vagina.
Tanda lain yang tampak adalah lendir putih berlebihan, dapat berupa gumpalan
seperti keju, dan tidak berbau. Apabila lendir berbau menyengat seperti telur
busuk, maka penyebabnya bukan lagi jamur
kandida, namun kemungkinan bakteri. (Widayati, Aris. 2008)
Pengobatan keputihan bisa dilakukan
dengan mengkonsumsi antibiotik seperti butoconazole,
klotrimazol, mikonazol, tikonazol, ekonazol, fentikonazol, nystatin,
terkonazol, ketokonasol, itrakonazol, dan flukonazol (Widayati, Aris. 2008) Namun penggunaan antibiotik
berlebihan dapat menyebabkan timbulnya resisten terhadap antibiotik tersebut,
maka banyak wanita yang lebih memilih pengobatan secara tradisonal karena efek
samping yang ditimbulkan sangat kecil.
Dari uraian diatas, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui apakah tanaman
lidah buaya (Aloe vera) dan daun
sirih hijau (Piper betle folium)
mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans, kemudian
dilihat berapa konsentrasi hambat minimum dari keduanya yang dapat menghambat
pertumbuhan Candida albicans. Kontrol
positif yang digunakan yaitu antibiotik Nystatin® karena lebih sering
digunakan. Nystatin® termasuk
golongan poliene, mekanisme kerja golongan poliene yaitu berikatan dengan
ergosterol secara irreversibel. Ergosterol merupakan komponen yang sangat penting
dari membran sel jamur.
Penelitian ini menggunakan metode difusi
agar yaitu dengan mengamati daerah yang bening, yang
mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh larutan uji
antimikroba pada permukaan media agar dengan memakai cakram kertas
saring yang telah dicelupkan ke dalam suatu larutan uji dengan konsentrasi
tertentu, lalu diletakan pada lempeng yang mengandung Candida albicans. Daerah hambatan terlihat dengan adanya zona jernih
disekitar cakram tadi,
B.
Perumusan
Masalah
1.
Apakah infusa tanaman lidah buaya (Aloe vera) dan daun sirih hijau (Piper betle folium) mampu menghambat
pertumbuhan jamur Candida albicans.
2.
Berapakah konsentrasi minimum infusa
tanaman lidah buaya dan daun sirih hijau yang dapat menghambat pertumbuhan
jamur Candida albicans.
C.
Batasan
Masalah
Penelitian
dibatasi pada uji daya hambat infusa tanaman lidah buaya (aloe vera) dan daun sirih hijau (piper betle folium) terhadap jamur Candida albicans penyebab penyakit keputihan dengan menggunakan metode
difusi agar.
D.
Tujuan
Penelitian
1.
Untuk mengetahui apakah infusa tanaman
lidah buaya (Aloe vera) dan daun
sirih hijau (Piper betle folium) mampu
menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
2.
Untuk melihat konsentrasi minimum air
infusa tanaman lidah buaya dan daun sirih hijau yang dapat menghambat
pertumbuhan jamur Candida albicans.
E.
Manfaat
Penelitian
1.
Diharapkan dapat memberikan informasi
kepada pembaca bahwa air rebusan tanaman lidah buaya dan daun sirih hijau
memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab penyakit keputihan.
2.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi yang berguna bagi pengguna obat tradisional, sebagai
alternative pengobatan terhadap penyakit keputihan.
F.
Hipotesa
Diduga
bahwa air rebusan tanaman lidah buaya (Aloe
vera) memiliki konsentrasi hambat
minimum yang lebih kecil dari pada air rebusan daun sirih hijau (Piper betle folium) dalam menghambat
pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab
penyakit keputihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar