Aku mencintaimu setulus hatiku
Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku
Aku Mengasihimu sepanjang usiakuAku Menginginkanmu lebih dari apapun
Meski tak seindah yang kau mauTak sesempurna cinta yang semestinya
Namun aku mencintaimuSungguh mencintaimu
Begitu erat begitu lekat perasaanku kepadamuTak bisa ku hentikan
Tak mampu ku tepiskan
Jumat, 28 Juni 2013
Tak seindah cinta yang semestinya..
Rabu, 26 Juni 2013
BAB 3 KTI
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
A.
Tempat
dan waktu penelitian
1. Waktu
penelitian
Waktu penelitian
dilaksanakan pada bulan Juli 2013 – Agustus 2013
2. Tempat
penelitian
Tempat penelitian
dilakukan di UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
Jalan Dr. Sam Ratulangi No.103 Penengahan Bandar Lampung
B.
Alat
dan Bahan
1.
Alat :
a. Cawan
petri diameter 10 cm
b. Lidi
kapas steril
c. Jarum
ose
d. Inkubator
e. Autoclave
f. Pinset
g. Kertas
cakram berbentuk bundar
h. Tabung
reaksi dan rak
i.
Lampu spritus
j.
Oven
k. Timbangan
elektrik
l.
Beaker glass 100 ml
m. Erlenmeyer
100 ml
n. Pipet
ukur 5,0 ml dan 10 ml
o. Balp
p. Kertas
saring steril
q. Kain
kasa steril
2.
Bahan :
a. Media
Sabouraud Dextrosa Agar
b. Media
Sabouraud Dextrosa Broth
c. Biakan
murni jamur Candida albicans
d. Daun
sirih hijau (Piper betle folium)
e. Tanaman
lidah buaya (Aloe vera)
f. Aquades
steril
C.
Metode
penelitian
1.
Teknik
sampling
a. Populasi
Populasi
dari penelitian ini adalah bagian daun pada daun sirih hijau (Piper betle folium) yang di ambil
daunnya dan bagian dalam (lendir) dari tanaman lidah buaya (Aloe vera) yang di ambil di pekarangan rumah penduduk di daerah
Telukbetung, Bandar Lampung.
b. Sampel
Sampel
yang digunakan adalah daun sirih hijau (Piper
betle folium) yang masih segar, berwarna hijau tua dengan berbentuk
jantung, berujung runcing dengan ukuran lebar daun ±8 cm yang di ambil secara
acak pada bagian tanamannya. Lidah buaya (Aloe
vera) yang digunakan yang masih segar dan memiliki panjang ± 30 cm dan
lebarnya ± 5 cm, daun berwarna hijau dengan bintik garis putih kecil-kecil yang
masih terlihat jelas. Pengujian dilakukan sebanyak dua kali (duplo).
2.
Prosedur
penelitan
a.
Penanganan
sampel daun sirih hijau (Piper betle
folium)
1)
Ditimbang 100 gram daun sirih hijau dan
dicuci bersih dengan air bersih.
2)
Kemudian direbus dengan aquades steril
sebanyak 100 ml dengan suhu 90oC selama 15 menit.
3)
Dinginkan, kemudian saring dengan kain
kasa steril sampai cairan terpisah, maka diperoleh larutan uji dengan
konsentrasi 100% larutan (A).
4)
Larutan uji ini kemudian dibuat beberapa
pengenceran dengan aquades steril
yaitu konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% dengan cara
mengambil 9 ml larutan (A) kemudian tambahkan 1 ml aquadest steril (90%), 8 ml
larutan (A) ditambahkan 2 ml aquadest steril (80%), 7 ml larutan (A) tambahkan 3
ml aquadest steril (70%), dan seterusnya sampai konsentrasi 10%.
b.
Penanganan
sampel tanaman lidah buaya
1)
Ambil Aloe
vera dan dicuci bersih dengan air bersih.
2)
Kupas kulitnya ambil bagian dalam lalu ditimbang sebanyak 100 gram
dan di blender tanpa menambahkan air.
3)
Kemudian direbus dengan aquades steril
sebanyak 100 ml selama 15 menit dengan suhu 90oC.
4)
Disaring dengan kain kasa steril sampai
cairan terpisah, maka diperoleh
larutan uji dengan konsentrasi 100% larutan (A).
5)
Larutan uji ini kemudian dibuat beberapa
pengenceran dengan aquades steril
yaitu konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90% dengan cara
mengambil 9 ml larutan (A) kemudian tambahkan 1 ml aquadest steril (90%), 8 ml
larutan (A) ditambahkan 2 ml aquadest steril (80%), 7 ml larutan (A) tambahkan
3 ml aquadest steril (70%), dan seterusnya sampai konsentrasi 10%.
c.
Uji
Daya Hambat dan Penentuan Konsentrasi Hambat Minimum
1)
Pembuatan susupensi dilakukan dengan
cara mengambil satu mata ose biakan murni Candida
albicans dari stok kultur murni dan
dimasukan dalam tabung reaksi yang berisi Sabouraud Dextosa Broth
sebanyak 3 ml, kemudian dikocok hingga homogen dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC.
2)
Dimasukan lidi kapas steril ke dalam
tabung yang berisi suspense jamur kemudian lidi kapas steril ditekan pada
dinding tabung dan diusapkan pada medium Sabouraud dextrose agar secara merata.
3)
Diambil kertas cakram yang direndam di
dalam larutan uji air rebusan daun
sirih maupun tanaman lidah buaya dengan konsentrasi 10 - 100% dan diletakan
diatas media Sabouraud dextrose agar yang
telah diinokulasi jamur Candida
albicans.
4)
Diinkubasi pada suhu 37oC
selama 3 hari.
5)
Sebagai kontrol digunakann kertas cakram
yang direndam dalam aquades steril
6)
Diamati ada atau tidaknya zona hambatan
(wilayah jernih) yang terbentuk di
sekitar kertas cakram
7)
Pembacaan
i.
Positif :
Terjadi zona hambatan (wilayah jernih) di sekitar kertas cakram
ii.
Negatif :
Tidak terjadi zona hambatan (wilayah jernih) di sekitar kertas cakram. (Lay.B,
1994)
d.
Uji
Pembanding dengan menggunakan Antibiotik Kandistatin® 100 000 UI/mL
1)
Dimasukan lidi kapas steril ke dalam
tabung yang berisi suspensi jamur kemudian lidi kapas steril ditekan pada
dinding tabung dan diusapkan pada medium Sabouraud
dextrose agar secara merata
2)
Tempelkan secara aseptis cakram antibiotik
di atas media Sabouroud dextrose agar
yang telah diinokulasi jamur Candida
albicans.
3)
Diinkubasi pada suhu 37oC
selama 3 hari.
e. Pengolahan data hasil penelitian
Setelah
dilaksanakan penelitian secara laboratorium terhadap materi yang diujikan yaitu
uji sensitifitas infusa daun sirih dan Aloe
vera terhadap Candida albicans penyebab
penyakit keputihan dengan menggunakan metode difusi agar memakai kertas cakram.
Maka
dilakukan :
1) Pengamatan
ada atau tidaknya zona hambat (wilayah jernih) di daerah kertas cakram.
2) Pengukuran
diameter zona hambat (wilayah jernih) untuk hasil yang positif terhadap zona
hambat (wilayah jernih) disekitar kertas cakram.
3) Perhitungan
rata-rata diameter zona hambat (wilayah jernih) untuk setiap perlakuan terhadap
sampel yang diteliti.
4) Penandaan
dengan tanda positif (+) bila ada zona hambatan (wilayah jernih) dan tanda
negatif (-) bila tidak ada zona hambatan (wilayah jernih) disekitar kertas
cakram.
5) Penentuan
konsentrasi hambat minimum terhadap sampel yang diteliti.
BAB 1 KTI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Menurut Permenkes Nomor 1076/Menkes/SK/VII/2003
tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional, obat tradisional adalah bahan
atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral,
sediaan sarian (galenik) atau campuran bahan tersebut yang secara turun temurun
telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Obat tradisional pada
saat ini banyak digunakan untuk pengobatan karena menurut beberapa penelitian
efek samping pada obat tradisional masih relatif ringan. Sebagai contoh obat
tradisional yang masih banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia sampai saat
ini misalnya lidah buaya (Aloe vera) dan
daun sirih hijau (Piper betle folium).
Lidah Buaya (Aloe barbadensis
Milleer) atau yang lebih dikenal dengan Aloe
vera adalah sejenis tumbuhan
yang sudah dikenal sejak ribuan tahun silam dan digunakan sebagai penyubur
rambut, penyembuh luka, dan untuk perawatan kulit. Tumbuhan ini dapat ditemukan
dengan mudah di kawasan kering di Afrika.
Lidah buaya adalah salah satu jenis tanaman obat yang memiliki kandungan
senyawa bioaktif yang disebut antrakuinon. Bioaktif yang terkandung
pada lidah buaya ini memiliki fungsi sebagai antibakteri atau antibiotik
(Sinurat dkk., 2003).
Tanaman sirih adalah salah satu tanaman obat yang
telah dimanfaatkan dari tahun ketahun. Sirih hijau (Piper betle linn) merupakan salah satu jenis tumbuhan merambat yang
termasuk family Piperaceae. Daun
sirih mengandung minyak atsiri dan beberapa turunan fenol, salah satunya dalam daun sirih
terkandung eugenol yang memiliki sifat antifungal. (Drs.H. Arief Hariana, 2007)
Candida
albicans merupakan
khamir. Khamir adalah fungi yang tidak berfilamen dan bereproduksi melalui
pertunasan atau pembelahan sel. Khamir digunakan dalam pembuatan roti dan
anggur, namun adapula khamir yang dapat menimbulkan panyakit, contoh khamir patogen
adalah Candida. (Bibiana,1994). Infeksi
jamur ini dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang
dapat menyebabkan septicemia,
endokarditis atau meningitis (Simatupang,
2009). Namun jamur ini lebih sering dikenal sebagai penyebab penyakit
keputihan.
Keputihan
atau Fluor Albus merupakan sekresi
vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya
disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian
luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain penggunaan kontrasepsi
jenis oral, bakteri, virus, jamur atau juga parasit.
Gejala
yang muncul adalah kemerahan pada vulva
di vagina, bengkak, iritasi, dan rasa terbakar serta panas pada daerah vagina.
Tanda lain yang tampak adalah lendir putih berlebihan, dapat berupa gumpalan
seperti keju, dan tidak berbau. Apabila lendir berbau menyengat seperti telur
busuk, maka penyebabnya bukan lagi jamur
kandida, namun kemungkinan bakteri. (Widayati, Aris. 2008)
Pengobatan keputihan bisa dilakukan
dengan mengkonsumsi antibiotik seperti butoconazole,
klotrimazol, mikonazol, tikonazol, ekonazol, fentikonazol, nystatin,
terkonazol, ketokonasol, itrakonazol, dan flukonazol (Widayati, Aris. 2008) Namun penggunaan antibiotik
berlebihan dapat menyebabkan timbulnya resisten terhadap antibiotik tersebut,
maka banyak wanita yang lebih memilih pengobatan secara tradisonal karena efek
samping yang ditimbulkan sangat kecil.
Dari uraian diatas, maka penulis
tertarik untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui apakah tanaman
lidah buaya (Aloe vera) dan daun
sirih hijau (Piper betle folium)
mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans, kemudian
dilihat berapa konsentrasi hambat minimum dari keduanya yang dapat menghambat
pertumbuhan Candida albicans. Kontrol
positif yang digunakan yaitu antibiotik Nystatin® karena lebih sering
digunakan. Nystatin® termasuk
golongan poliene, mekanisme kerja golongan poliene yaitu berikatan dengan
ergosterol secara irreversibel. Ergosterol merupakan komponen yang sangat penting
dari membran sel jamur.
Penelitian ini menggunakan metode difusi
agar yaitu dengan mengamati daerah yang bening, yang
mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh larutan uji
antimikroba pada permukaan media agar dengan memakai cakram kertas
saring yang telah dicelupkan ke dalam suatu larutan uji dengan konsentrasi
tertentu, lalu diletakan pada lempeng yang mengandung Candida albicans. Daerah hambatan terlihat dengan adanya zona jernih
disekitar cakram tadi,
B.
Perumusan
Masalah
1.
Apakah infusa tanaman lidah buaya (Aloe vera) dan daun sirih hijau (Piper betle folium) mampu menghambat
pertumbuhan jamur Candida albicans.
2.
Berapakah konsentrasi minimum infusa
tanaman lidah buaya dan daun sirih hijau yang dapat menghambat pertumbuhan
jamur Candida albicans.
C.
Batasan
Masalah
Penelitian
dibatasi pada uji daya hambat infusa tanaman lidah buaya (aloe vera) dan daun sirih hijau (piper betle folium) terhadap jamur Candida albicans penyebab penyakit keputihan dengan menggunakan metode
difusi agar.
D.
Tujuan
Penelitian
1.
Untuk mengetahui apakah infusa tanaman
lidah buaya (Aloe vera) dan daun
sirih hijau (Piper betle folium) mampu
menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
2.
Untuk melihat konsentrasi minimum air
infusa tanaman lidah buaya dan daun sirih hijau yang dapat menghambat
pertumbuhan jamur Candida albicans.
E.
Manfaat
Penelitian
1.
Diharapkan dapat memberikan informasi
kepada pembaca bahwa air rebusan tanaman lidah buaya dan daun sirih hijau
memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab penyakit keputihan.
2.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi yang berguna bagi pengguna obat tradisional, sebagai
alternative pengobatan terhadap penyakit keputihan.
F.
Hipotesa
Diduga
bahwa air rebusan tanaman lidah buaya (Aloe
vera) memiliki konsentrasi hambat
minimum yang lebih kecil dari pada air rebusan daun sirih hijau (Piper betle folium) dalam menghambat
pertumbuhan jamur Candida albicans penyebab
penyakit keputihan.
Langganan:
Postingan (Atom)